Senin, 12 Oktober 2020

Review Perusahaan IT E-Wallet (OVO)

 Hi semuanya!



           Tahu gak sih kalian, 
 Dalam dua tahun terakhir pembayaran menggunakan dompet digital atau uang elektronik berbasis server sedang naik daun? Penyebabnya, agresifnya OVO menjaring pengguna lewat tawaran diskon dan cash back lho!


OVO merupakan produk milik PT Visionet Internasional yang terafiliasi dengan Grup Lippo. Mengutip rilis Lippo, tahun lalu OVO telah mendapatkan suntikan dana dari Tokyo Century sebesar US$120 juta.


  • Model Bisnis

Kebanyakan dompet digital melayani konsumen untuk memudahkan mereka membayar tagihan listrik, membeli pulsa, membayar uang sekolah, dan membelanjakan uangnya untuk pembelian tertentu. Terkadang, beberapa e-wallet pertama kali dibuat untuk memudahkan layanan tertentu, seperti dompet digital Go-Pay untuk Gojek.

Setiap transaksi melelaui dompet digital, penyedia e-wallet akan mendapatkan komisi dari operator yang menerima uang, bisa di antara 1 - 3% untuk setiap pembayaran. Ini belum termasuk komisi yang didapat oleh e-wallet bila bekerjasama dengan perusahaan e-commerce. Sebut saja, contoh kerjasama terkini antara OVO dan Tokopedia. Bisa Kamu bayangkan bahwa Tokopedia mencetak omzet minimum Rp 1 triliun setiap bulannya (2017), lalu kenakan saja 1% setiap transaksi dengan e-wallet OVO, maka Rp 10 Miliar sudah pasti diterima.

  • Penghasilan imbal hasil dari setoran dana

Di OVO, Kamu pasti tahu bahwa mereka merupakan salah satu bagian dari Grup Lippo. Perlu diingat bahwa setiap dana yang dititipkan kepada OVO, dana tersebut bisa saja diputar oleh sah satu banknya, Nobu Bank. Ada imbal hasil yang bisa OVO dapatkan hanya dari titipan uang. Semakin banyak uang yang kita setorkan, maka semakin besar dana kelola yang dapat OVO hasilkan.

  • Cara lain OVO dapatkan penghasilan
  1. OVO bisa saja seperti Go-Pay, setiap melakukan pengisian top up dikenakan Rp 1.000. Bayangkan bila ada 1.000 transaksi dalam satu menit, maka sudah ada Rp 1 juta yang dihasilkan, hanya dari biaya top up.
  2. OVO bisa saja nantinya mengenakan biaya bulanan kepada vendor / penjual yang sudah terbiasa pakai OVO. Strategi mereka adalah membuat semua vendor merasa tidak bisa menjalankan bisnis dengan lancar, apabila tidak memiliki OVO. Konsep ini sama seperti Kamu membayar biaya administrasi terhadap buku bank yang Kamu miliki, setiap bulan.
  3. Biaya iklan. Bisa saja OVO membebankan setiap perusahaan yang ingin bekerjasama dengan OVO, bila mereka semakin tidak bisa dilepas oleh masyarakat (konsumen).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar